Kamis, 02 Mei 2013

Lanjutannn......


Sedetik kemudian Linda hanya tersipu malu dengan pernyataan Bimo barusan, sejurus kemudian Bimo meninggalkan Linda dan memacu motornya untuk pulang, Linda hanya melambaikan tangan dan tersenyum manis seakan mimpinya selama ini menjadi kenyataan, dia ibarat putrid tidur yang terbangun dari tidurnya yang panjang dan menemukan sesosok pangeran di sampingnya yang setia kepadanya hingga akhir masa.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, kini Linda semakin akrab dan dekat dengan keluarga besar Bimo, dan Linda di sambut hangat dengan keluarga besar Bimo.
Tibalah hari di mana Linda dengan serius mengenalkan Bimo kepada keluarga besarnya, ketika Linda mengenalkan Bimo kepada keluarganya yang jelas-jelas menganut paham bahwa anak bungsu harus menikah dengan anak sulung, jika tidak maka keluarga mereka akan sial tujuh turunan.
“ Nak Bimo, anak keberapa?” Selidik Mama Linda kepada Bimo yang diakui putrinya sebagai pacar.
“ Emm,, saya anak bungsu dari tujuh bersaudara Tante.” Jelas Bimo sambil menunjukan rasa hormatnya.
“ Hah, anak bungsu” Mama Linda kaget dan mengulangi kata-kata Bimo barusan.
“ Iya Ma, anak bungsu” Linda mengulangi ucapan Ibunya.
“ Linda sini bentar ikut Mama ke belakang, maaf yah nak Bimo, Saya tinggal sebentar.” Kemudian Mama Linda menarik lengan putrinya dan mengajaknya bicara empat mata.
Linda hanya mengikuti kemauan Ibunya.
“ Gini Nak, kayaknya tidak sepantasnya anak bungsu menikah dengan anak bungsu nanti rejekinya turun, susah punya anak, terus masing-masing nanti gak ada yang mau ngalah.” Mama Linda menasehati putrinya.
Linda sebagai anak yang penurut hanya mengangguk pelan ke arah Ibunya.
“ Jadi Ibu minta kalian putus aja, apalagi sekarang kan kamu sudah kelas tiga SMA, sudah mau kuliah, nanti ujianmu terganggu, dan otomatis kamu sudah gak bisa kuliah lagi.” Ujar Mama Linda menjelaskan duduk perkaranya dan berharap putrinya tersebut mengerti.
“ Iya Ma, tapi jangan sekarang yah ngomongnya ntar aja kalau Bimo sudah pulang” Linda pun pergi ke ruang tamu lagi dengan perasaan yang campur aduk antara sedih dan bingung.
“ Kenapa Lin, Ibu bilang apa?” Bimo merasa khawatir dengan perubahan raut wajah Linda.
“ Ngg,,,, Nggakk papa.. ntar aja yah kujelasin.” Jawab Linda datar.
Setelah satu jam Bimo berada di rumah Linda, kemudian dia berpamitan kepada Mama Linda yang hanya di sambut dengan wajah yang acuh tak acuh yang bisa di artikan Bimo dengan pernyataan jangan datang ke sini lagi.
“ Lin, nanti aku telpon yah.” Dan Bimo pun bergegas pulang kemudian sesampainya di rumah dia langsung mengambil ponselnya dan mencari nama Linda dan menghubunginya.
Telepon Linda tersambung tetapi tidak di angkat.
Kemudian Bimo berusaha lagi untuk ketiga kalinya dan hanya tersambung dengan nada Tut,, Tutt,, Tut dan masih sama tidak juga di angkat, Bimo pun mulai dgelisah dalam hatinya “ ada apa sebenarnya?”
Setelah pertimbangan beberapa menit yang lalu akhirnya dia berpikir dan mengambil inisiatif untuk menghubungi dengan cara SMS yang berbunyi.
“ Lin, kenapa kok telpon ku gak di angkat?”
Sejurus kemudian Linda membalas.
“ Maaf,, maaf ,,, maaf”
“ Loh kok minta maaf ada apa sih jawab yang jujur?.”
“ Kita putus aja yah, aku gak sanggup ngomong ini langsung jadi sekali lagi aku minta maaf banget ini bukan mauku tapi semua keluargaku gak ada yang setuju”
Sejam kemudian Bimo hanya diam dan tidak membalas pesan terakhir Linda.
“ Bim balas, terserah kamu mau marah atau kutuk aku, aku udah siap dan iklas menerima cacianmu” Kata Linda di dalam pesannya yang tidak sabar dengan apa yang akan di katakana Bimo.
“ Kalau memang itu maumu, aku Cuma bisa berdoa semoga ini yang terbaik buat kamu, dan semoga kamu menemukan cowok yang diidamkan sama keluarga besarmu dan semoga kamu bahagia dengan keputusan ini”
Linda sangat ingin mengatakan bahwa yang dia idamkan, dan yang terbaik buat dia Cuma ada satu orang dan orang itu adalah BIMO, tapi apa dayanya Linda hanya mampu bermimpi tapi susah untuk mewujudkannya.
Beberapa hari setelah kejadian itu, keluarga besar Bimo murka, karena Bimo ternyata terkena penyakit paru-paru basah dan sudah sangat parah dan di perparah lagi dengan kata-kata Linda.
Linda yag mendengar kabar itu berlari ke rumah sakit untuk melihat keadaan Bimo yang sebenarnya tetapi sayang dia tidak di perbolehkan masuk keruangan Bimo yang kala itu terasa dingin, sdingin hatinya yang hancur.
Akhirnya Linda berpikir siapa yang bisa menolongnya, dan hanya ada satu nama yang bisa membantunya yaitu Nita.
“ Nit, bantuin aku kali ini aja” Sesampainya Linda di sekolah dan dengan bersemangat menghampiri Nita sahabatnya.
“ Bantuan apa nih?” Nita bingung melihat sahabatnya yang sangat tulus meminta bantuan.”
“ Bantuin aku dekatin Bimo buat aku Nit, aku pengen tau keadaannya tapi keluarganya melarangku untuk ketemu sama Bimo.” Pinta Linda.
“ Cukup tau aja kan?.” Tanya Nita lagi.
“ Iyaa pliss,,, banget,, akuu,, mohon mau yah?” Linda pun mengatupkan telapak tangannya seraya menghamba kepada Nita.
“ Oke,,, nanti siang selesai pulang sekolah aku ke rumah sakit, dan mudahan aja aku gak di usir.” Nita pun mengiyakan permintaan sahabatnya itu.
“ Makasih, kamu emang temanku yang paliiiiinnngggggggggg,,, baik..” Linda akhirnya tersenyum puas dengan jawaban sahabatnya itu.
“ Emmm,, dasar kalau ada maunya aja baru deh muji, muji aku.”
Bel penanda pelajaran usai pun berbunyi dan murid-murid di persilahkan untuk pulang, Nita pun bergegas ke rumah sakit tempat Bimo di rawat dan melihat kondisi Bimo.
“ Duh Lin, parah banget,,, kasian deh dia harus di impus dan di suntik tiap tiga jam sekali karena penyakitnya udah parah banget.” Jelas Nita di ujung telpon dan menceritakan kondisi terakhir Bimo.
Mendengar kabar itu Linda hanya mampu menangis sejadi-jadinya dan merasa bersalah serta mengutuki dirinya sendiri.
“ Aku minta kamu temenin dia yah Nit, sampai sembuh.” PInta Linda setelah tangisnya usai.
“ Sipp,, tenang aja nanti aku yang hibur dia.” Kemudian telpon pun terputus dan tinggallah Nita yang menjaga Bimo di samping ranjang dan membaca buku.
Setelah menunggu lima jam akhirnya Bimo sadar.
“ Udah enakan Bim?.” Nita sigap ketika melihat Bimo membuka matanya.
Bimo hanya mengangguk pelan.
“ Syukur deh,, Linda panic setengah mati gara-gara dengar kamu masuk rumah sakit.”
Bimo hanya terdiam mendengar nita menyebut nama Linda, seseorang yang sekarang ingin dia lupakan.
Satu bulan berlalu kini Bimo sudah lebih sehat dan mulai ceria lagi, kini dia lebih sabar dan karena ada Nita di sampingnya dia merasa jauh lebih baik dan terlebih lagi keluarga Nita juga baik dengan dirinya.
“ Nit, gimana Bimo sekarang” Linda penasaran dan mengorek informasi ke Nita perihal kesehatan Bimo.
“ Yah,, udah baikan sih selama aku nemenin dia di rumah sakit, dia jadi lebih baik.” Jelas Nita sambil tetap membaca novel yang di pegangnya.
Linda diam dengan pernyatan Nita, sebenarnya bukan itu yang dia inginkan tetapi perkataan Nita barusan menyadarkannya bahwa Bimo sudah melupakan dirinya tidak seperti yang dia lakukan sekarang selalu mengingat perkataan Bimo yang tulus dan selalu mengingat wajah riangnya apakah Bimo juga masih mengingatnya?, tetapi kata-kata itu hanya sampai di tenggorokan Linda tanpa terucap. Nita seakan mengerti dan hanya diam seperti yang di lakukan Linda.
Upacara pelulusan SMA pun usai, kini siswa-siswa itu berubah menjadi mahasiswa dan menyebar di Perguruan Tinggi, Linda pun begitu, dia di terima di Universitas mulawarman dan mengambil jurusan kedokteran sedangkan Linda masuk ke Universitas Widya Cipta Darma mengambil jurusan Manajemen Bisnis.
“ Selamat yah Lin, bakalan jadi dokter masa depan nih?” Ucap Nita dan mengulurkan tangannya.
“ Kamu juga selamat yah, tapi kok kuliah di sana padahal kan kamu keterima di Unmul juga jurusan Pendidikan Biologi, kok sekarang putar haluan?” Linda bingung dengan kemauan sahabatnya tapi tetap menyambut uluran tangan Nita.
“ Ada deh mau tau aja.” Nita hanya menjawab datar dan tersenyum membuat Linda bingung tetapi tidak bisa menanyakannya lebih lanjut.
Satu tahun mengecap pendidikan menjadi mahasiswa Linda baru mengetahui jika Bimo juga kuliah di Uiversitas Widya Cipta Dharma, dan terjawablah sudah apa alasan Nita masuk ke Universitas tersebut.
“ Lin, tau gak sekarang Nita pacaran sama mantan kamu Bimo.” Ujar Ana teman semasa SMA Linda yang juga mengenal Nita dan Bimo.
“ Iya kah, kayaknya itu juga salah aku dulu yang ngelepasin Bimo.” Jelas Linda pasrah dengan keadaan.
“ Tapi denger-denger yah mereka mau tunangan dan sekarang Bimo kuliah sambil ngejalanin usaha keluarganya.” Ana si biang gossip semakin memanasi Linda dengan kata-kata yang membuat luka hati Linda terbuka lagi dan seakan di taburi dengan garam semakin sakit.
Linda tidak menanggapi dan hanya duduk menghabisi mie ayam yang ada di depannya.
“ Tau gak Lin, menurut aku sih, itu namanya teman makan teman, kok dia tga banget yah sama kamu, pantes aja dia ikut masuk kesitu ternyata ada maunya toh.” Ana semakin menjadi-jadi memaki Nita.
“ Sudah cukup! Mulutmu gak bisa di jaga yah apa perlu saya jahit biar bisa diem?” Linda murka dan mengeluarkan kata kata yang sama pedasnya.
“ Iyaa maaf deh,, tapi kamu kapan punya pacar lagi ini kan udah mau tiga tahun kamu menjomblo”
“ Heh, masalah buat lo, aku aja gak masalah, kok kamu sewot sih?” Kemarahan Linda sudah memuncak dan siap meledak tetapi dia memilih untuk pergi daripada mengurusi masalah yang tidak penting.
Kini tahun berganti tahun, usia Linda sudah memasuki angka dua puluh lima tahun dan kini sudah menyandang predikat dokter tetapi hingga sekarang dia belum juga menikah.
“ Nak, kapan kamu kawin, umurmu itu sudah seperempat abad?.” Mama Linda membuka suara.
“ Nanti aja Ma..” Jawab Linda singkat.
“ Nanti,, nanti, sampai kapan Mama sudah malu sama tetangga-tetangga sebaya Mama, mereka sudah menggendong cucunya, Mama kapan?.” Ujar Mama Linda kali ini dengan nada suara tinggi.
“ Sabar Ma,, Oh iya kita di undang Nita di acara nikahannya hari minggu depan.”
“ Nah, sekarang Nita lagi yang mau nikah, nikah sama siapa dia?” Mama Nita penasaran.
Perlahan walupun ragu apakah Ibunya akan marah atau tidak.
“ Emmm..,,, Nikahnya sama BIMO.” Kemudian Linda hanya menarik nafas.
“ Bimo,, kayaknya pernah dengar namanya.” Mama Linda mengingat dan menyambungkan ingatannya yang mulai pikun.
Linda hanya diam tak mau menjelaskan lebih lanjut dan memilih bergegas masuk ke kamar.
Sejam kemudian Mama Linda sudah berdiri di depan pintu kamar Linda.
“ Mantanmu kan Lin?” Sergap Mama Linda
Seketika itu Linda menangis dan mengingat kenangan pahitnya, dan memeluk Ibunya dengan erat.
“ Ma,, harusnya Linda yang ada di samping Bimo sekarang, tapi nyatanya sekarang apa?” Linda terisak-isak dan air mata kian membanjiri matanya.
“ Maafin Mama, ini semua salah Mama,,” Mama Linda menyadari kesalahannya dan ikut menangisi keadaan putrinya dan hanya mampu mengucapkan kata maaf.
Hari pernikahan Nita dan Bimo pun sampai, dengan berat hati Linda datang dan melihat dari jauh Bimo yang tampak gagah dengan setelan baju pengantinnya yang berwarna putih gading beserta peci yang melekat pada kepalanya.
“ Ehh,, Linda lama gak ketemu?.” Suara dari arah belakang membuat lamunan Linda buyar.
“ Ardi? Apa kabar ya ampun kamu makinn,,,, ganteng yah” Linda seraya menoleh dan tersenyum manis kepada Ardi yang juga tersenyum manis kepadanya.
“ Denger-denger kamu jadi dokter yah sekarang?” ucap Ardi dan seraya duduk di samping Linda.
“ Iya ini berkat les private dari kamu dulu jadi semua lebih mudah,, emm,, kamu jadi apa sekarang?” Tanya Linda balik.
“ Kenalin Dr. Ardi Hilmawan.” Kata Ardi seraya mengulurkan tangannya.
“ Kamuu,,, dokter juga,, hahaha gak nyangka kuliah di mana kamu selama ini pastinya bukan di Unmul kan?” Jelas Linda semakin penasaran dan antusias.
“ Aku lulusan Universitas Indonesia.”
“ Wahh dokter hebat dong?”
“ Gak juga biasa aja,, emm maaf kalau aku lancing,, tapii apa kamu udah nikah?”
Deg, jantung Linda bergetar pertanyaan itu ibarat sengatan listrik baginya.
“ Kok diem, maaf deh kalau aku lancing.” Kemudian Ardi berbalik dan ingin pergi tapi di tahan oleh Linda.
“ Gak aku belom nikah, kamu??.” Tanya Linda balik.
“ Sama aku juga.”
Cinta memang tidak membutuhkan waktu yang tepat, kita tidak tau datangnya dari mana entah itu dari depan atau belakang, kanan atau kiri yang pasti setahun kemudian Linda dan Ardi menikah tanpa mereka ketahui Allah sudah memberikan jodoh yang tepat yang kita perlukan bukan jodoh yang kita inginkan dan impikan karena kita memang merencanakan tetapi tuhanlah yang menentukan.
Puisi
Kita tidak pernah tau cinta datangnya dari mana
Terkadang ia menyembunyikan dirinya
Dan terkadang ia menampakkan dirinya
Terkadang ia menyenangkan
Tapi sekaligus menyakitkan
Itulah cinta walaupun sakit dan senang silih berganti
Tetapi manusia selalu membutuhkan cinta

Thanks To My reader sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca cerpen yang tak sempurna ini. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar