Sedetik kemudian Linda hanya
tersipu malu dengan pernyataan Bimo barusan, sejurus kemudian Bimo meninggalkan
Linda dan memacu motornya untuk pulang, Linda hanya melambaikan tangan dan
tersenyum manis seakan mimpinya selama ini menjadi kenyataan, dia ibarat putrid
tidur yang terbangun dari tidurnya yang panjang dan menemukan sesosok pangeran
di sampingnya yang setia kepadanya hingga akhir masa.
Hari berganti hari, minggu
berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, kini Linda
semakin akrab dan dekat dengan keluarga besar Bimo, dan Linda di sambut hangat
dengan keluarga besar Bimo.
Tibalah hari di mana Linda
dengan serius mengenalkan Bimo kepada keluarga besarnya, ketika Linda
mengenalkan Bimo kepada keluarganya yang jelas-jelas menganut paham bahwa anak
bungsu harus menikah dengan anak sulung, jika tidak maka keluarga mereka akan
sial tujuh turunan.
“ Nak Bimo, anak keberapa?”
Selidik Mama Linda kepada Bimo yang diakui putrinya sebagai pacar.
“ Emm,, saya anak bungsu dari
tujuh bersaudara Tante.” Jelas Bimo sambil menunjukan rasa hormatnya.
“ Hah, anak bungsu” Mama Linda
kaget dan mengulangi kata-kata Bimo barusan.
“ Iya Ma, anak bungsu” Linda
mengulangi ucapan Ibunya.
“ Linda sini bentar ikut Mama ke
belakang, maaf yah nak Bimo, Saya tinggal sebentar.” Kemudian Mama Linda
menarik lengan putrinya dan mengajaknya bicara empat mata.
Linda hanya mengikuti kemauan
Ibunya.
“ Gini Nak, kayaknya tidak
sepantasnya anak bungsu menikah dengan anak bungsu nanti rejekinya turun, susah
punya anak, terus masing-masing nanti gak ada yang mau ngalah.” Mama Linda
menasehati putrinya.
Linda sebagai anak yang penurut
hanya mengangguk pelan ke arah Ibunya.
“ Jadi Ibu minta kalian putus
aja, apalagi sekarang kan kamu sudah kelas tiga SMA, sudah mau kuliah, nanti
ujianmu terganggu, dan otomatis kamu sudah gak bisa kuliah lagi.” Ujar Mama
Linda menjelaskan duduk perkaranya dan berharap putrinya tersebut mengerti.
“ Iya Ma, tapi jangan sekarang
yah ngomongnya ntar aja kalau Bimo sudah pulang” Linda pun pergi ke ruang tamu
lagi dengan perasaan yang campur aduk antara sedih dan bingung.
“ Kenapa Lin, Ibu bilang apa?”
Bimo merasa khawatir dengan perubahan raut wajah Linda.
“ Ngg,,,, Nggakk papa.. ntar aja
yah kujelasin.” Jawab Linda datar.
Setelah satu jam Bimo berada di
rumah Linda, kemudian dia berpamitan kepada Mama Linda yang hanya di sambut
dengan wajah yang acuh tak acuh yang bisa di artikan Bimo dengan pernyataan
jangan datang ke sini lagi.
“ Lin, nanti aku telpon yah.”
Dan Bimo pun bergegas pulang kemudian sesampainya di rumah dia langsung
mengambil ponselnya dan mencari nama Linda dan menghubunginya.
Telepon Linda tersambung tetapi
tidak di angkat.
Kemudian Bimo berusaha lagi
untuk ketiga kalinya dan hanya tersambung dengan nada Tut,, Tutt,, Tut dan
masih sama tidak juga di angkat, Bimo pun mulai dgelisah dalam hatinya “ ada
apa sebenarnya?”
Setelah pertimbangan beberapa
menit yang lalu akhirnya dia berpikir dan mengambil inisiatif untuk menghubungi
dengan cara SMS yang berbunyi.
“ Lin, kenapa kok telpon ku gak
di angkat?”
Sejurus kemudian Linda membalas.
“ Maaf,, maaf ,,, maaf”
“ Loh kok minta maaf ada apa sih
jawab yang jujur?.”
“ Kita putus aja yah, aku gak
sanggup ngomong ini langsung jadi sekali lagi aku minta maaf banget ini bukan
mauku tapi semua keluargaku gak ada yang setuju”
Sejam kemudian Bimo hanya diam
dan tidak membalas pesan terakhir Linda.
“ Bim balas, terserah kamu mau
marah atau kutuk aku, aku udah siap dan iklas menerima cacianmu” Kata Linda di
dalam pesannya yang tidak sabar dengan apa yang akan di katakana Bimo.
“ Kalau memang itu maumu, aku
Cuma bisa berdoa semoga ini yang terbaik buat kamu, dan semoga kamu menemukan
cowok yang diidamkan sama keluarga besarmu dan semoga kamu bahagia dengan
keputusan ini”
Linda sangat ingin mengatakan
bahwa yang dia idamkan, dan yang terbaik buat dia Cuma ada satu orang dan orang
itu adalah BIMO, tapi apa dayanya Linda hanya mampu bermimpi tapi susah untuk
mewujudkannya.
Beberapa hari setelah kejadian
itu, keluarga besar Bimo murka, karena Bimo ternyata terkena penyakit paru-paru
basah dan sudah sangat parah dan di perparah lagi dengan kata-kata Linda.
Linda yag mendengar kabar itu
berlari ke rumah sakit untuk melihat keadaan Bimo yang sebenarnya tetapi sayang
dia tidak di perbolehkan masuk keruangan Bimo yang kala itu terasa dingin,
sdingin hatinya yang hancur.
Akhirnya Linda berpikir siapa
yang bisa menolongnya, dan hanya ada satu nama yang bisa membantunya yaitu
Nita.
“ Nit, bantuin aku kali ini aja”
Sesampainya Linda di sekolah dan dengan bersemangat menghampiri Nita sahabatnya.
“ Bantuan apa nih?” Nita bingung
melihat sahabatnya yang sangat tulus meminta bantuan.”
“ Bantuin aku dekatin Bimo buat
aku Nit, aku pengen tau keadaannya tapi keluarganya melarangku untuk ketemu
sama Bimo.” Pinta Linda.
“ Cukup tau aja kan?.” Tanya
Nita lagi.
“ Iyaa pliss,,, banget,, akuu,,
mohon mau yah?” Linda pun mengatupkan telapak tangannya seraya menghamba kepada
Nita.
“ Oke,,, nanti siang selesai
pulang sekolah aku ke rumah sakit, dan mudahan aja aku gak di usir.” Nita pun
mengiyakan permintaan sahabatnya itu.
“ Makasih, kamu emang temanku
yang paliiiiinnngggggggggg,,, baik..” Linda akhirnya tersenyum puas dengan
jawaban sahabatnya itu.
“ Emmm,, dasar kalau ada maunya
aja baru deh muji, muji aku.”
Bel penanda pelajaran usai pun
berbunyi dan murid-murid di persilahkan untuk pulang, Nita pun bergegas ke
rumah sakit tempat Bimo di rawat dan melihat kondisi Bimo.
“ Duh Lin, parah banget,,,
kasian deh dia harus di impus dan di suntik tiap tiga jam sekali karena
penyakitnya udah parah banget.” Jelas Nita di ujung telpon dan menceritakan
kondisi terakhir Bimo.
Mendengar kabar itu Linda hanya
mampu menangis sejadi-jadinya dan merasa bersalah serta mengutuki dirinya
sendiri.
“ Aku minta kamu temenin dia yah
Nit, sampai sembuh.” PInta Linda setelah tangisnya usai.
“ Sipp,, tenang aja nanti aku
yang hibur dia.” Kemudian telpon pun terputus dan tinggallah Nita yang menjaga
Bimo di samping ranjang dan membaca buku.
Setelah menunggu lima jam
akhirnya Bimo sadar.
“ Udah enakan Bim?.” Nita sigap
ketika melihat Bimo membuka matanya.
Bimo hanya mengangguk pelan.
“ Syukur deh,, Linda panic
setengah mati gara-gara dengar kamu masuk rumah sakit.”
Bimo hanya terdiam mendengar
nita menyebut nama Linda, seseorang yang sekarang ingin dia lupakan.
Satu bulan berlalu kini Bimo
sudah lebih sehat dan mulai ceria lagi, kini dia lebih sabar dan karena ada
Nita di sampingnya dia merasa jauh lebih baik dan terlebih lagi keluarga Nita
juga baik dengan dirinya.
“ Nit, gimana Bimo sekarang”
Linda penasaran dan mengorek informasi ke Nita perihal kesehatan Bimo.
“ Yah,, udah baikan sih selama
aku nemenin dia di rumah sakit, dia jadi lebih baik.” Jelas Nita sambil tetap
membaca novel yang di pegangnya.
Linda diam dengan pernyatan
Nita, sebenarnya bukan itu yang dia inginkan tetapi perkataan Nita barusan
menyadarkannya bahwa Bimo sudah melupakan dirinya tidak seperti yang dia
lakukan sekarang selalu mengingat perkataan Bimo yang tulus dan selalu
mengingat wajah riangnya apakah Bimo juga masih mengingatnya?, tetapi kata-kata
itu hanya sampai di tenggorokan Linda tanpa terucap. Nita seakan mengerti dan
hanya diam seperti yang di lakukan Linda.
Upacara pelulusan SMA pun usai,
kini siswa-siswa itu berubah menjadi mahasiswa dan menyebar di Perguruan
Tinggi, Linda pun begitu, dia di terima di Universitas mulawarman dan mengambil
jurusan kedokteran sedangkan Linda masuk ke Universitas Widya Cipta Darma
mengambil jurusan Manajemen Bisnis.
“ Selamat yah Lin, bakalan jadi
dokter masa depan nih?” Ucap Nita dan mengulurkan tangannya.
“ Kamu juga selamat yah, tapi
kok kuliah di sana padahal kan kamu keterima di Unmul juga jurusan Pendidikan Biologi,
kok sekarang putar haluan?” Linda bingung dengan kemauan sahabatnya tapi tetap
menyambut uluran tangan Nita.
“ Ada deh mau tau aja.” Nita
hanya menjawab datar dan tersenyum membuat Linda bingung tetapi tidak bisa
menanyakannya lebih lanjut.
Satu tahun mengecap pendidikan
menjadi mahasiswa Linda baru mengetahui jika Bimo juga kuliah di Uiversitas
Widya Cipta Dharma, dan terjawablah sudah apa alasan Nita masuk ke Universitas
tersebut.
“ Lin, tau gak sekarang Nita
pacaran sama mantan kamu Bimo.” Ujar Ana teman semasa SMA Linda yang juga
mengenal Nita dan Bimo.
“ Iya kah, kayaknya itu juga
salah aku dulu yang ngelepasin Bimo.” Jelas Linda pasrah dengan keadaan.
“ Tapi denger-denger yah mereka
mau tunangan dan sekarang Bimo kuliah sambil ngejalanin usaha keluarganya.” Ana
si biang gossip semakin memanasi Linda dengan kata-kata yang membuat luka hati
Linda terbuka lagi dan seakan di taburi dengan garam semakin sakit.
Linda tidak menanggapi dan hanya
duduk menghabisi mie ayam yang ada di depannya.
“ Tau gak Lin, menurut aku sih,
itu namanya teman makan teman, kok dia tga banget yah sama kamu, pantes aja dia
ikut masuk kesitu ternyata ada maunya toh.” Ana semakin menjadi-jadi memaki
Nita.
“ Sudah cukup! Mulutmu gak bisa
di jaga yah apa perlu saya jahit biar bisa diem?” Linda murka dan mengeluarkan
kata kata yang sama pedasnya.
“ Iyaa maaf deh,, tapi kamu
kapan punya pacar lagi ini kan udah mau tiga tahun kamu menjomblo”
“ Heh, masalah buat lo, aku aja
gak masalah, kok kamu sewot sih?” Kemarahan Linda sudah memuncak dan siap
meledak tetapi dia memilih untuk pergi daripada mengurusi masalah yang tidak
penting.
Kini tahun berganti tahun, usia
Linda sudah memasuki angka dua puluh lima tahun dan kini sudah menyandang
predikat dokter tetapi hingga sekarang dia belum juga menikah.
“ Nak, kapan kamu kawin, umurmu
itu sudah seperempat abad?.” Mama Linda membuka suara.
“ Nanti aja Ma..” Jawab Linda
singkat.
“ Nanti,, nanti, sampai kapan
Mama sudah malu sama tetangga-tetangga sebaya Mama, mereka sudah menggendong
cucunya, Mama kapan?.” Ujar Mama Linda kali ini dengan nada suara tinggi.
“ Sabar Ma,, Oh iya kita di
undang Nita di acara nikahannya hari minggu depan.”
“ Nah, sekarang Nita lagi yang
mau nikah, nikah sama siapa dia?” Mama Nita penasaran.
Perlahan walupun ragu apakah
Ibunya akan marah atau tidak.
“ Emmm..,,, Nikahnya sama BIMO.”
Kemudian Linda hanya menarik nafas.
“ Bimo,, kayaknya pernah dengar
namanya.” Mama Linda mengingat dan menyambungkan ingatannya yang mulai pikun.
Linda hanya diam tak mau
menjelaskan lebih lanjut dan memilih bergegas masuk ke kamar.
Sejam kemudian Mama Linda sudah
berdiri di depan pintu kamar Linda.
“ Mantanmu kan Lin?” Sergap Mama
Linda
Seketika itu Linda menangis dan
mengingat kenangan pahitnya, dan memeluk Ibunya dengan erat.
“ Ma,, harusnya Linda yang ada
di samping Bimo sekarang, tapi nyatanya sekarang apa?” Linda terisak-isak dan
air mata kian membanjiri matanya.
“ Maafin Mama, ini semua salah
Mama,,” Mama Linda menyadari kesalahannya dan ikut menangisi keadaan putrinya
dan hanya mampu mengucapkan kata maaf.
Hari pernikahan Nita dan Bimo
pun sampai, dengan berat hati Linda datang dan melihat dari jauh Bimo yang
tampak gagah dengan setelan baju pengantinnya yang berwarna putih gading
beserta peci yang melekat pada kepalanya.
“ Ehh,, Linda lama gak ketemu?.”
Suara dari arah belakang membuat lamunan Linda buyar.
“ Ardi? Apa kabar ya ampun kamu
makinn,,,, ganteng yah” Linda seraya menoleh dan tersenyum manis kepada Ardi
yang juga tersenyum manis kepadanya.
“ Denger-denger kamu jadi dokter
yah sekarang?” ucap Ardi dan seraya duduk di samping Linda.
“ Iya ini berkat les private
dari kamu dulu jadi semua lebih mudah,, emm,, kamu jadi apa sekarang?” Tanya
Linda balik.
“ Kenalin Dr. Ardi Hilmawan.”
Kata Ardi seraya mengulurkan tangannya.
“ Kamuu,,, dokter juga,, hahaha
gak nyangka kuliah di mana kamu selama ini pastinya bukan di Unmul kan?” Jelas
Linda semakin penasaran dan antusias.
“ Aku lulusan Universitas
Indonesia.”
“ Wahh dokter hebat dong?”
“ Gak juga biasa aja,, emm maaf
kalau aku lancing,, tapii apa kamu udah nikah?”
Deg, jantung Linda bergetar
pertanyaan itu ibarat sengatan listrik baginya.
“ Kok diem, maaf deh kalau aku
lancing.” Kemudian Ardi berbalik dan ingin pergi tapi di tahan oleh Linda.
“ Gak aku belom nikah, kamu??.”
Tanya Linda balik.
“ Sama aku juga.”
Cinta memang tidak membutuhkan
waktu yang tepat, kita tidak tau datangnya dari mana entah itu dari depan atau
belakang, kanan atau kiri yang pasti setahun kemudian Linda dan Ardi menikah
tanpa mereka ketahui Allah sudah memberikan jodoh yang tepat yang kita perlukan
bukan jodoh yang kita inginkan dan impikan karena kita memang merencanakan
tetapi tuhanlah yang menentukan.
Puisi
Kita
tidak pernah tau cinta datangnya dari mana
Terkadang
ia menyembunyikan dirinya
Dan
terkadang ia menampakkan dirinya
Terkadang
ia menyenangkan
Tapi
sekaligus menyakitkan
Itulah
cinta walaupun sakit dan senang silih berganti
Tetapi
manusia selalu membutuhkan cinta
Thanks To My reader sudah mau meluangkan waktunya untuk
membaca cerpen yang tak sempurna ini. ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar